Tanggal Posting

April 2021
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Aktifitas


Shalat di Lombok

3 hari melihat-lihat daerah di Nusa Tenggara Barat.   Pada tanggal 11 Agustus 2016 pagi mendarat di bandara LombokIMG_2135_kunjungan ke Lombok di bandara

Sebagai musafir, seorang muslim diberikan keringanan untuk shalat jama atau qashar.   Tetapi selama di sini kami bisa shalat di awal waktu & sempat berjamaah, sebab hampir disetiap persinggahan selalu dekat dengan masjid atau mushalla.  Jadi tidak percuma mendapat julukan ‘pulau seribu masjid’

masjid-agung gili

pada hari kedua menyempatkan diri mengunjungi gili/pulau Trawangan.  Bertepatan hari jum’at, kami shalat jum’at di masjid Agung Baiturrahman.

Ba’da shalat jum’at berkesempatan ikut & melihat gotong royong memindahkan berugaq sakenam yang ada di depan jalan masuk masjid menjadi ke bagian samping jalan.

IMG_0889_gotroy~pindah berugaq (sekenam)

Bagian dalam masjid Baiturrahman

IMG_0894_masjid agung gili bagian dalam

berbincang santai setelah shalat Ashar dengan salah satu tokoh/pengurus masjid

IMG_0901_berbincang di masjid agung gili

Ada 2 masjid besar di gili Trawangan ini, selain masjid agung Baiturrahman juga ada masjid Nurul Istiqomah yang sedang dalam tahap renovasi

IMG_0892_masjid nurul istiqomah bagian dalam

dibawah ini gambar rencana renovasi masjid ini

IMG_0893_rencana masjid nurul-istiqomah

link: http://www.republika.co.id/


Logika Manusia dan Kuasa Tuhan

Isra’-Mi’raj: Antara Logika Manusia dan Kuasa Tuhan

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah sesuatu yang harus diimani atau dipercayai, pembenarannya adalah pembenaran hati

Isra’-Mi’raj: Antara Logika Manusia dan Kuasa Tuhan

Oleh: Rahmat Hidayat Zakaria  

 

PERINGATAN Isra’ dan Mi’raj tidak asing lagi bagi kita. Peristiwa ini terjadi pada diri Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Beliau berada di Mekkah diperjalan malamkan oleh Tuhan, ini yang perlu digaris bawahi terlebih dahulu. Diperjalan malamkan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan dari sana ke Sidratil Muntaha dalam waktu yang amat singkat.

Itu karenanya ada riwayat yang mengatakan bahwa ketika selesai dari perjalanan tersebut, tempat pembaringan Nabi itu masih terasa hangat. Kalaulah dikatakan, perjalanan dari Mekah ke Palestina itu dapat ditempuh oleh siapa pun walaupun memakan waktu yang lama, namun perjalanan dari Masjidil Aqsa (Palestina) ke Sidratil Muntaha sampai sekarang belum ada yang berhasil ke sana. Yang berhasil melampaui angkasa luar memang ada, itu pun dengan menggunakan alat.

Pertanyaannya adalah apakah benar pengalaman itu dialami oleh Nabi dalam keadaan sadar atau jangan-jangan ia hanya sekedar mimpi? Karena tidak dapat dipungkiri ada yang beranggapan demikian.

Sekarang mari kita lihat, kita jadikan titik tolak pembicaraan ini melalui pendekatan al-Qur’an. Sebenarnya, al-Qur’an telah memerintahkan untuk ditadabburi, difahami dan diteliti kandungan maupun pesan-pesannya. Al-Qur’an telah memberikan isyarat-isyarat, susunan al-Qur’an biasanya surah terdahulu menjadi muqaddimah (pengantar) untuk surah yang akan datang; surah al-Fatihah menjadi pengantar untuk surah al-Baqarah, al-Baqarah pengantar untuk surah Ali ‘Imran dan seterusnya hingga surah al-Nahl yang merupakan pengantar untuk surah al-Isra’. Sebelum itu perlu diketahui bahwa al-Nahl artinya Lebah. Lebah adalah makhluk yang istimewa dan ajaib. Yang dimakan dan dipersembahkannya adalah yang baik-baik, ia tidak mengganggu kecuali diganggu, sengatannya dapat dijadikan obat, ada masyarakatnya itu dikatakan sampai 80.000, rumahnya persegi 6 semuanya efisien, ada bahasanya yaitu tarian. Surah al-Nahl ini menggambarkan betapa istimewanya ciptaan Allah, sedangkan surah al-Isra’ menggambarkan perbuatannya yang istimewa yaitu RasulullahShalallahu ‘Alaihi Wassallam.

Karena surah al-Nahl tadi dijadikan sebagai pengantar untuk surah al-Isra’, maka di awal surahal-Nahl itu dikatakan: “Telah datang ketetapan Allah (hari Kiamat), maka jangan minta cepat-cepat untuk didatangkan”. Sepintas, redaksi ini menimbulkan sebuah tanda tanya yaitumengapa jika sudah datang ia dilarang minta cepat-cepat untuk didatangkan? Mestinya logika kita memahaminya, bakal atau akan datang, maka jangan minta cepat-cepat didatangkan. Jadi apa yang dilogikakan tersebut barulah jelas dan difahami maksudnya. Kalaulah redaksi telah datang, maka jangan minta cepat-cepat didatangkan tadi menunjukkan sesuatu, masa atau pun waktu yang tidak logis bagi manusia, tapi ia tidaklah mustahil bagi Tuhan. Hal tersebut dapat menyadarkan sekaligus mengingatkan bahwa logika manusia tidak dapat disamakan dengan kuasa Tuhan. Itu karena segala aktivitas manusia maupun segala sesuatu tidak dapat dipisahkan dari waktu. Lemparan bola memerlukan waktu untuk sampai ke suatu tempat; suara manusia lebih cepat sampainya ketimbang lemparan bola dan begitu pun juga dengan cahaya yang lebih cepat waktu sampainya daripada suara manusia. Walaupun segala sesuatu memerlukan waktu dan ada unsur-unsur relativitasnya, namun ada wujud atau Zat yang tidak memerlukan waktu yaitu Allah Subhanahu Wata’ala. Waktu dulu, sekarang dan yang akan datang bagi Allah adalah sama. Allah tidak memerlukan waktu untuk menciptakan sesuatu (QS. al-Nahl: 40). Begitu juga dengan apa yang terjadi pada diri Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam menyangkut Isra dan Mi’raj, perjalanan itu bukanlah perjalanan Nabi, karena perbuatan atau perjalanan beliau memerlukan waktu untuk menempuhnya, tapi ia diperjalan malamkan.

Oleh sebab itu, boleh jadi ada ciptaan Allah yang bisa menempuh jarak yang begitu jauh dengan cepat dan dalam waktu yang amat singkat, yang nalar manusia sangat terbatas untuk menjangkau dan mengetahui segala ciptaanNya (QS. al-Nahl: 8).

Dikarenakan pengalaman Isra’ dan Mi’raj yang terjadi pada diri Nabi ini membuat logika manusia tidak semuanya membenarkan akan kebenaran peristiwa tersebut, maka di akhir-akhir surah al-Nahl Allah Subhanahu Wata’ala mengingatkan: “(Hai Muhammad), kamu nanti bakal menghadapi berbagai macam pendapat, maka bersabarlah, janganlah kamu bersedih hati atas pengingkaran orang-orang” (QS. al-Nahl: 127). Ayat ini mengindikasikan bahwa pengalaman Isra’ dan Mi’raj itu tidak mustahil jika ia diingkari kebenarannya, terutama bagi manusia yang menyikapinya dengan menggunakan logika dan nalar semata-mata. Apabila kita menyoroti peristiwa tersebut melalui pendekatan dari teori-teori atau dasar filosofis dari ilmu pengetahuan saat ini, hal tersebut dapat diamati melalui tiga hal: pertama, trial and error(coba-coba); kedua, melalui pengamatan (baik itu melalui kelima panca indera maupun akal); dan yang ketiga, melalui experiment (percobaan). Pengalaman Isra’ dan Mi’raj jika diamati menggunakan pendekatan atau toluk ukur dari tiga teori di atas, maka peristiwa tersebut menjadi mustahil dan tidak logis. Pun begitu juga, jika Isra’ dan Mi’raj itu ditinjau melalui pendekatan ilmiah, maka ia menjadi tidak ilmiah lagi.

Umum diketahui bahwa manusia tidak terlepas dari salah dan keliru. Kenapa manusia salah dan keliru? salah satu penyebabnya adalah karena salah cara mendekati sesuatu atau salah dalam menggunakan alat. Seseorang dikatakan keliru apabila menikmati suara musik melalui mata; seseorang keliru jika merasakan manis atau asinnya suatu masakan melalui telinga; dan seseorang dapat keliru apabila mengukur lebarnya suatu ruangan melalui timbangan. Jadi segala sesuatu ada cara masing-masing untuk mendekatinya. Peristiwa Isra’ dan Mi’raj apabila ditinjau dengan pendekatan akal atau ilmiah tadi saja sudah ditolak, lalu pendekatan apa yang harus kita gunakan, apakah dengan mata, telinga maupun akal? Karena jika salah cara mendekatinya, maka salah juga dalam menyimpulkannya.

Oleh karena itu, manusia perlu cara untuk memahaminya, karena manusia mempunyai akal dan hati, ilmu dan iman. Satu-satunya pendekatan yang harus digunakan dalam memahami peristiwa tersebut adalah dengan pendekatan imani, yaitu percaya.

Pendekatan iman (percaya) tidak dapat dikesampingkan dan tidak kalah pentingnya bagi umat Islam, karena ia juga termasuk metode epistemologis guna memahami sesuatu. Salah satu ibadah atau media untuk menanamkan kepercayaan (keimanan) ke dalam hati manusia akan wujud sang Pencipta dan wujud yang Maha kuasa adalah shalat. Itu sebabnya shalat inilah yang merupakan oleh-oleh dari perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam.

Shalat adalah kebutuhan hati dan akal. Dikarenakan pengalaman Isra’ dan Mi’raj itu memerlukan pendekatan iman untuk membenarkan peristiwa tersebut, maka secara tidak langsung melalui ibadah shalat ini tertanam kepercayaan ke dalam diri manusia akan keMahakuasaan Allah atas segala sesuatu. Allah Maha Kuasa memperjalan malamkan RasulNya dalam waktu yang amat singkat. Jika tertanam di dalam hati manusia akan keMaha KuasaanNya, ia akan mengimani dan membenarkan peristiwa tersebut.

Dari uraian tadi dapat disimpulkan bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah sesuatu yang harus diimani atau dipercayai, pembenarannya adalah pembenaran hati. Itu sebabnya, ada sementara filosof yang menyatakan bahwa seseorang harus percaya bukan karena ia tahu, karena kalau sudah tahu ia tidak lagi dinamai percaya. Kita percaya, karena al-Qur’an telah menceritakan akan hal tersebut. Walaupun peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah sesuatu yang suprarasional yang tidak terjangkau oleh nalar, namun ia dapat dijangkau oleh Iman. Itu karenanya, sebelum diceritakan tentang Isra’, Allah terlebih dahulu mengawali pembicaraanNya dengan perkataan subhaana yaitu Mahasuci Allah. Perkataan subhaanatidak diucapkan dan tidak diperuntukkan kecuali untuk sesuatu yang aneh, ajaib dan yang istimewa atau untuk sesuatu yang dapat mengagumkan seseorang. Dengan demikian, jangan anggap Allah tidak mampu dan tidak kuasa akan itu, karena Dia Mahasuci atas segala kekurangan yang tergambar di dalam benak manusia. Wallahu a‘lam bishshawaab.*

***Penulis adalah dosen di UIN Raden Fatah dan Universitas Muhammadiyah Palembang

sumber: http://www.hidayatullah.com/


Meng-“cancel” Do’a

Jangan Meng-cancel Do’a!

Selain ibadah, menurut saya, doa adalah sugesti positif yang memberi kekuatan dan keyakinan. Maka saya selalu berusaha berdoa setiap hari. Dikabulkan atau tidaknya doa yang kita panjatkan serahkan saja kepada yang Maha Tahu. Karena Dia lah yang paling tahu atas apa yang kita butuhkan.

Perkuat doa kita dengan cara diulang-ulang, sebab doa positif yang berulang akan memberikan sugesti positif dan mempengaruhi otak bawah sadar. Jangan pernah berhenti berdoa apalagi meng-cancel doa Anda. Apa doa bisa di-cancel? Bisa, yaitu dengan cara Anda meragukan doa Anda sendiri. Maka apabila sudah berdoa, mantap saja, yakin saja, dan biarkan Allah SWT yang mengatur waktunya kapan doa itu dikabulkan.

Jangan pernah ragu dan kecewa atas apa yang kita panjatkan. Belajarlah kepada Nabi Zakaria tentang keyakinannya saat berdoa. Simak ungkapan Nabi Zakaria, “Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku, ya Tuhanku, belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada-Mu. (QS Maryam [19]: 4).

Saat Kita bekerja atau berbisnis, jangan hanya mengandalkan kecerdasan, keahlian, ketrampilan dan kemahiran yang kita miliki. Sisipkan selalu doa dalam setiap hal yang kita lakukan. Selain menambah keyakinan juga menepis kesombongan. Bila suatu saat apa yang kita lakukan membuahkan hasil yang luar biasa, kita menjadi sadar itu adalah karena peran Dia, Allah yang Maha Kuasa.

Selain ragu, doa juga bisa di-cancel dengan cara kita melakukan sesuatu yang berlawanan dengan doa kita. Misalnya, kita berdoa untuk dilapangkan rezeki namun kita bermalas-malasan dan enggan berusaha lebih keras, cerdas dan ikhlas. Anda berdoa ingin karirnya melesat, namun Anda enggan melakukan sesuatu yang menantang, hal ini pun bisa meng-cancel terkabulnya doa.

Yakinlah terhadap apa yang kita ucapkan dalam doa. Jangan pernah kita meng-cancel doa kita. Sebarkanlah tulisan ini apabila menurut Anda banyak manfaat yang Anda dapatkan.85 Dhul-Jalali Wal-Ikram

**sumber: http://jamilazzaini.com/


Al-Mujaadilah ayat 22

Q.S.58. Al-Mujaadilah ayat 22

al-Mujadilah ayat 22

22. Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka…….

 

link: http://www.eramuslim.com/

http://www.eramuslim.com/nasehat-ulama/


PPMB SPs IPB 2016

Pendaftaran Mahasiswa Baru SPs IPB 2016

baliho ppmb SPs2016

PPMB2016SPs


Bonenkai Festival

Bonenkai Festival 10 di Bogor

16 dan 17 Januari 2016; kaka ading ikut lihat Bonenkai Festival 10 di hotel salak Bogor

kaka-ading di  bonenkai 10-

kita foto bersama ya…

kaka-ading di  bonenkai 10 bonenkai pertunjukan-1 bonenkai foto bersama-1 bonenkai foto bersama-3


Menghadapi MEA

Bayi itu Bernama MEA

by Jamil Azzaini

Akhir tahun 2015 saya tutup dengan memberikan inspirasi di masjid Syuhada, Jogjakarta. Acara yang dimotori surat kabar Republika ini dilakukan serentak di tiga kota: Jakarta, Bandung dan Jogjakarta. Usai acara saya dibonceng motor menyusuri berbagai jalan protokol di kota gudeg ini menuju hotel untuk menghindari kemacetan.

Tepat tengah malam, saya tiba di hotel tempat menginap. Di kerumunan orang yang sedang berpesta menyambut tahun baru saya iseng bertanya, “Apakah Anda tahu apa itu MEA?” Ternyata, tidak ada satupun yang tahu. Ya, bayi ajaib yang baru lahir dan bisa berdampak besar bagi negeri ini ternyata kelahirannya banyak yang tidak tahu. Bayi itu bernama Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Tahun 2016 ini seolah sudah tak ada batas antar negara, berbagai produk dan jasa dari berbagai negara di Asia bisa masuk bebas ke negeri ini. Bahkan saya mendapat kabar dari teman-teman pengusaha di Jawa Timur, banyak orang asal negara lain siap menjadi buruh dan bersedia dibayar dibawah UMR (Upah Minimum Regional). Apabila kita tidak siap, maka kita bisa “mati” di negeri sendiri.

Apa yang perlu kita lakukan untuk menyambut “bayi” yang bernama MEA? Saya memiliki beberapa cara yang konsisten akan terus saya lakukan. Pertama, saya memilih dan menggunakan produk atau jasa lokal, asli Indonesia, tentu selama hal itu diproduksi di Indonesia. Misalnya, baju berbatik, kuliner masakan Indonesia, sepatu produksi Cibaduyut, dan sejenisnya.

Sewaktu saya kecil dulu ada film dan gerakan ACI, Aku Cinta Indonesia. Menurut saya, kesadaran ini perlu dimunculkan dan ditumbuhkan. Kita perlu menghargai berbagai kreativitas anak negeri dengan cara membeli dan menggunakan hasil karya mereka.

Kedua, terus meningkatkan kapasitas diri. Tentu sebagian dari Anda sudah sering mendengar ungkapan, “Daripada mengutuk kegelapan lebih baik menyalakan lilin.” Dari pada mengutuk kehadiran MEA lebih baik menyiapkan diri untuk bisa memenangkan persaingan. Asahlah terus keahlian yang sudah kita miliki, terus berusaha menjadi 10 terbaik di bidang yang kita tekuni.

Percayalah, rezeki akan mengejar orang-orang yang terus belajar. Rezeki enggan mendekat kepada orang yang sering mengeluh dan senang menghujat.

Ketiga, berkolaborasi. Menghadapi “bayi” ajaib yang memiliki banyak kekuatan tidak bisa dilakukan sendirian. Kita mampu menaklukannya saat kita bekerja sama. Ingat ya, bekerja sama bukan sama-sama bekerja. Segera jalin kekuatan dengan berbagai pihak yang ingin menikmati berbagai peluang yang ada dengan hadirnya MEA.

Siapkah Anda?

31 Al-Khabir

***

sumber: http://jamilazzaini.com/


Pemandangan Alam

Belajar mendokumentasikan yang dilihat di sekitar tempat tinggal sendiri

Pemandangan di Pamijahan

IMG_20151223_113159

IMG_20151223_114348

Pemandangan di Ciampea

IMG_20151223_130744 IMG_20151223_130810


“Buah Tangan”

Hadiah, buah tangan, souvenir

 

Hadiah, oleh-oleh, buah tangan dari daerah mempunyai ciri khas masing-masing.  Apakah berupa makanan, perhiasan, rumah, adat, senjata maupun pakaian.  Ciri khas ini bisa dari lokasi, daerah, ataupun semboyan-semboyan.

Contoh adalah kaos/pakaian; misalnya

  • kaos Joger – mencirikan daerah Bali
  • kaos Dagadu – mencirikan daerah Jogja
  • kaos Ortega – mencirikan daerah Tegal, Jawa Tengah. (ortega: orang tegal asli)
  • kaos Pareholic – mencirikan daerah Pare, Kediri, Jawa Timur

Beberapa ciri khas lainnya seperti: Monas di Jakarta, Bekantan di Kalimantan, Dayak di Kalimantan, Ondel-ondel di Jakarta, Borobudur di Jawa Tengah, Jam Gadang di Padang, Tugu Khatulistiwa di Pontianak, Tugu Nol Km di Sabang dan banyak lagi.

Demikian juga dengan batik dan tenun, ada berdasarkan motif, corak, warna dan sebagainya seperti: batik solo, batik jogja, batik sasirangan, kain songket dan berbagai nama lainnya 🙂

Salah satu contoh lebel pada kaos yang baru saya dapat dari Pare:

 

Logo pareholic-2IMG-20151231-WA0015pareholic toko2IMG-20151231-WA0017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

link: https://www.youtube.com/watch?v=r-279j62SRM ; https://www.facebook.com/pareholigans


Liburan Sekolah Anak

Liburan Anak

kaka Fia liburan seminggu di “Kampoeng Inggris” Pare, Kediri Jawa Timur.  Hari libur bagi murid dan siswa sekolah, tapi hari sibuk untuk sopir di jalan raya :).
Macet…. itulah kata yang banyak terucap…
Waktu tempuh dari Bogor ke Jawa Timur biasanya sekitar 16 jam; perjalanan kaka Fia sampai ke Pare selama 22 jam 🙁

 

kaka liburannya ke jawa, sedangkan ading Akmal berlibur ke dalam kota Jakarta.  Menggunakan moda transportasi bebas macet “kereta api”/ commuterline.
  


Foto bersama “manusia batu”